Direktorat Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Srawung Komunitas ke-2 pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Kantor Subdit Pengembangan Karakter Mahasiswa, Sekip K8. Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari seluruh 26 Komunitas Kemahasiswaan UGM, menjadikannya forum representatif yang mempertemukan ekosistem komunitas mahasiswa dengan jajaran pimpinan Direktorat Kemahasiswaan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Kemahasiswaan, Sekretaris Direktorat, para Kepala Subdirektorat, serta para Ketua Tim Kerja di lingkungan Direktorat Kemahasiswaan. Kehadiran lengkap pimpinan Direktorat Kemahasiswaan dalam forum ini menegaskan keseriusan institusi dalam mendukung dan mendengarkan aspirasi komunitas kemahasiswaan.
Acara dibuka dan dipandu oleh Kepala Subdit Pengembangan Kreativitas Mahasiswa, Suprijani, S.IP., M.P.A., sebelum dilanjutkan dengan paparan oleh Ketua Tim Kerja Kompetisi Mahasiswa, Zaenudin, S.ST.Ars. Dalam pemaparannya, Zaenudin menyampaikan perkembangan Surat Keputusan Pengurus Komunitas, informasi mengenai kompetisi-kompetisi mahasiswa yang telah dirilis, serta penjelasan teknis terkait pagu bantuan komunitas. Paparan ini menjadi penting sebagai pembekalan bagi perwakilan komunitas agar dapat memanfaatkan berbagai program dan bantuan yang tersedia secara optimal. Sesi ini juga membuka ruang bagi komunitas untuk memahami arah kebijakan Direktorat Kemahasiswaan dalam mendukung pengembangan komunitas secara lebih terstruktur.
Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si., Direktur Kemahasiswaan UGM, kemudian mengisi sesi berikutnya dengan memaparkan hal-hal terkait transformasi Organisasi Mahasiswa (Ormawa) di lingkungan UGM. Beliau menekankan bahwa perubahan yang sedang digagas bukan sekadar perubahan struktural, melainkan juga perubahan orientasi menuju komunitas yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak nyata bagi kehidupan kampus dan masyarakat luas. Direktur turut menyoroti pentingnya keberadaan Forum Komunikasi Komunitas sebagai jembatan yang menghubungkan komunitas dengan institusi secara lebih terorganisir dan berkelanjutan. “Melalui forum ini, diharapkan aspirasi komunitas dapat terserap dan digunakan sebagai media untuk menyelaraskan pengembangan komunitas agar lebih adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak nyata,” ujarnya.
Sesi penutup acara diisi dengan diskusi terbuka antara perwakilan komunitas dan jajaran Ditmawa, dan menjadi sesi yang paling meriah sepanjang Srawung Komunitas berlangsung. Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan dan masukan yang disampaikan secara aktif, mencerminkan tingginya kepedulian komunitas terhadap isu-isu yang memengaruhi kehidupan mereka di kampus. Dalam diskusi tersebut, perwakilan komunitas secara bersama-sama bersepakat untuk membentuk Forum Komunikasi Komunitas, yang kemudian dikenal dengan sebutan Forkomtas. Para perwakilan juga meminta agar keputusan pembentukan Forkom Komunitas UGM ini diakomodasi dalam rumusan transformasi Ormawa yang tengah disusun oleh Direktorat Kemahasiswaan.
Kesepakatan pembentukan Forkom Komunitas UGM menjadi salah satu keluaran paling signifikan dari Srawung Komunitas kali ini, karena memberikan komunitas sebuah wadah resmi untuk berkomunikasi, berkoordinasi, dan menyuarakan aspirasinya secara lebih terorganisir. Keberadaan forum komunikasi ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang memperkuat sinergi antara komunitas-komunitas mahasiswa di UGM, sekaligus mempererat hubungan antara komunitas dan Ditmawa sebagai mitra institusional. Srawung Komunitas sendiri dinilai sebagai forum strategis karena membuka ruang dialog yang nyata, memungkinkan aspirasi komunitas terserap secara langsung oleh pimpinan Direktorat Kemahasiswaan. Ke depannya, forum ini diharapkan terus hadir secara rutin sebagai media untuk menyelaraskan arah pengembangan komunitas agar semakin berdampak bagi kehidupan kampus dan masyarakat luas.
Penulis: Naja Ganiswara Ramadhani
Penyunting: Ahmad Yuana Putra